Kamal
al-Din Abu’l-Hasan Muhammad Al-Farisi lahir di Tabriz, Persia
(sekarang Iran) pada tahun 1267 dan wafat pada 1319 M. Al-Farisi
terkenal dengan kontribusinya tentang optik. Dalam bidang optik, ia
berhasil merevisi teori pembiasan cahaya yang dicetuskan para ahli
fisika sebelumnya. Al-Farisi membedah dan merevisi teori pembiasan
cahaya yang telah ditulis oleh Al-Haitham. Hasil revisi itu ia tulis
dalam kitab Tanqih al-Manazir (Revisi tentang Optik).
Menurut Al-Farisi, tidak semua teori
optik yang dikemukakan Al-Haitham benar. Karena itulah ia berusaha
memperbaiki kelemahan dan menyempurnakan teori Al-Haitham. Tak cuma itu,
teori Al-Haitham soal pelangi juga ia perbaiki. Bahkan Al-Farisi mampu
menggabungkan teori Al-Haitham ini dengan teori pelangi dari Ibnu Sina.
Para ahli sebelum al-Farisi berpendapat bahwa warna merupakan hasil
sebuah pencampuran antara gelap dengan terang. Secara khusus, ia pun
melakukan penelitian yang mendalam soal warna. Ia melakukan penelitian
dengan lapisan/bola transparan. Hasilnya, al-Farisi mencetuskan bahwa
warna-warna terjadi karena superimposition perbedaan bentuk gambar dalam latar belakang gelap.
“Jika gambar kemudian menembus di dalam,
cahaya diperkuat lagi dan memproduksi sebuah warna kuning bercahaya.
Selanjutnya mencampur gambar yang dikurangi dan kemudian sebuah warna
gelap dan merah gelap sampai hilang ketika matahari berada di luar
kerucut pembiasan sinar setelh satu kali pemantulan,” ungkap al-Farisi.
Penelitiannya itu juga berkaitan dengan dasar investigasi teori dalam dioptika yang disebut al-Kura al-muhriqa
yang sebelumnya juga telah dilakukan oleh ahli optik Muslim terdahulu
yakni, Ibnu Sahl (1000 M) dan Ibnu al-Haytham (1041 M). Dalam Kitab Tanqih al-Manazir
, al-Farisi menggunakan bejana kaca besar yang bersih dalam bentuk
sebuah bola, yang diisi dengan air, untuk mendapatkan percobaan model
skala besar tentang tetes air hujan.
Dia kemudian menempatkan model ini dengan
sebuah kamera obscura yang berfungsi untuk mengontrol lubang bidik
kamera untuk pengenalan cahaya. Dia memproyeksikan cahaya ke dalam
bentuk bola dan akhirnya dikurangi dengan beberapa percobaan dan
penelitian yang mendetail untuk pemantulan dan pembiasan cahaya bahwa
warna pelangi adalah sebuah fenomena dekomposisi cahaya.
Hasil penelitiannya itu hampir sama
dengan Theodoric of Freiberg. Keduanya berpijak pada teori yang
diwariskan Ibnu Haytham serta penelitian Descartes dan Newton dalam
dioptika (contohnya, Newton melakukan sebuah penelitian serupa di
Trinity College, dengan menggunakan sebuah prisma agak sedikit berbentuk
bola).
Al-Farisi mampu menjelaskan fenomena alam ini dengan menggunakan matematika. Inilah salah satu karya fenomenalnya.










0 komentar:
Posting Komentar